Nourishing the world's children for the best start in life

Perkembangan Anak

Perkembangan Kemampuan Si Kecil, daya atensi, gejala autisme, kemampuan atensi

Oleh: J. Steven Reznick, Ph.D.

 

 

 

 

Sistem syaraf yang ada pada diri kita berfungsi untuk mengendalikan informasi, baik yang berasal dari dalam diri ataupun dari dunia luar. Akan tetapi, informasi yang datang sangatlah banyak.  Kita perlu membatasi fokus kita hanya pada informasi yang spesifik dan relevan, serta tidak terpengaruh oleh informasi lain yang lebih luas. Pemfokusan pada informasi yang spesifik ini disebut “atensi”.

 

Seiring dengan bertambahnya usia, si kecil mengalami perkembangan besar dalam kemampuan mengendalikan atensinya. Hal ini akan turut mempengaruhi aspek lain dalam proses tumbuh kembangnya. Memahami perkembangan daya atensi si kecil dapat membantu orang tua untuk melihat aspek lain dalam tumbuh kembangnya, yang mungkin luput dari perhatian. Misalnya, karena atensi merupakan salah satu aspek perilaku yang sering dipengaruhi oleh autisme, orang tua yang memiliki pengetahuan tentang atensi akan lebih mampu mendeteksi gejala autisme, daripada orang tua yang tidak memiliki pengetahuan tentang atensi.

 

Seorang bayi yang baru lahir hanya memiliki daya atensi sederhana namun sangat berguna. Contohnya, ia bisa menggunakan otot di kantung matanya untuk mengarahkan pandangannya ke arah benda yang bergerak, benda yang berwarna cerah, atau benda yang bersuara keras. Ia juga memiliki sistem saraf khusus yang membuatnya sensitif terhadap rangsangan tertentu, contohnya mata. Bayi berusia 3-7 bulan, yang sudah melihat pola objek yang sama berulang-ulang, akan lebih suka melihat objek dengan pola baru. Mendekati usia 1 tahun, si kecil akan memiliki kemampuan lebih besar untuk mengarahkan atensinya. Misalnya, ia akan berusaha untuk mencari benda yang tidak terlihat.

 

Menginjak usia 1 tahun, kemampuan atensi si kecil akan masuk ke dalam tahap joint attention (atensi gabungan), di mana ia mencoba mengaitkan apa yang dilihatnya dengan apa yang dilihat orang lain. Misalnya, ketika orang tua menunjuk suatu benda, bayi usia  8-12 bulan akan  melihat ke arah benda yang ditunjuk. Dan ketika ia menunjuk ke arah tertentu, ia berharap orang tua akan merespon dengan melihat ke arah yang ia tunjuk.

 

Proses seperti ini membutuhkan perkembangan syaraf yang baik, namun hal ini juga dipengaruhi oleh stimulasi yang dilalui si kecil. Orang tua yang mau meningkatkan kemampuan atensi anaknya harus memberikan respon pada hal/benda yang ditunjuk si kecil, yaitu dengan cara melihat ke arah yang ditunjuk. Hal ini seperti permainan: ”anak menunjuk sesuatu, orang tua mengambilkan atau melihat ke arah tersebut”. Sebaliknya, orang tua dapat lebih aktif menstimulasi kemampuan atensi si kecil dengan berusaha menunjuk ke arah sesuatu, lalu meminta si kecil untuk mengikuti arah yang ditunjuk, lalu meminta si kecil memberikan respon terhadap benda tersebut (mengambil, menyentuh).

 

Kegiatan joint attention di atas dapat dijadikan indikator penting untuk mengetahui apakah si kecil mengalami perkembangan yang normal atau tidak. Bayi berusia 12 bulan yang tidak merespon dalam kegiatan joint attention tersebut memiliki kemungkinan lebih besar menerima diagnosa autisme. Jika si kecil yang sudah berusia 12 bulan tidak dapat atau enggan menunjuk ke arah suatu benda, atau tidak melakukan kontak mata, atau tidak melihat ke arah yang ditunjuk orang tua, hal-hal semacam ini harus segera dikonsultasikan ke dokter anak.

 

Untuk anak-anak yang lebih besar, orang tua dapat mendukung perkembangan atensi mereka dengan cara melakukan berbagai permainan, yang unsur keberhasilannya terkait dengan daya atensi sang anak, seperti permainan kartu (flash card).

 

Seiring dengan bertambahnya usia si kecil, aspek penting lainnya dari atensi adalah kemampuannya untuk mempertahankan atensi dalam konteks situasi tertentu, seperti di ruang kelas. Si kecil yang kurang mampu memberikan atensi saat di kelas dapat memiliki proses belajar yang kurang efektif. 

 

Penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa tidur dan pola makan bisa menjadi faktor kuat yang mempengaruhi atensi. Contohnya, jumlah jam tidur malam balita usia tiga sampai lima tahun dapat mempengaruhi tingkat atensi dan aktivitas mereka. 

 

Pada dasarnya, bila Ibu memiliki tingkat docosahexaenoic acid (DHA) lebih tinggi pada saat melahirkan, hal ini dapat mendukung si kecil memiliki daya atensi yang lebih baik selama tahun kedua usia si kecil. Dan, bila Ibu memiliki tingkat DHA tinggi pada saat melahirkan, hal ini dapat mendukung si kecil memiliki tingkat atensi lebih baik dalam kegiatan bermain, dibandingkan dengan anak-anak yang ibunya memiliki tingkat DHA rendah pada saat melahirkan.

 

Si kecil sekarang telah mengerti beberapa instruksi sederhana, meskipun ia mungkin sengaja memilih untuk mengabaikannya ketika Ibu mengatakan "tidak". Misalnya saat Ibu mengatakan "tidak" ketika si kecil mencoba untuk menyentuh stop kontak listrik, mungkin ia akan berhenti sejenak dan melihat wajah Ibu, bahkan ia mungkin akan menggelengkan kepalanya sebagai tanda tidak setuju dengan larangan Ibu.

 

Si kecil pun suka menguji tanggapan Ibu terhadap perilakunya, mungkin sebenarnya ia tidak bermaksud bersikap nakal. Namun tujuan ia menolak larangan Ibu adalah untuk lebih memahami bagaimana segala sesuatu di sekelilingnya bekerja.

 

Mungkin ia akan melempar makanan di lantai hanya untuk melihat apa yang akan Ibu lakukan terhadap makanan tersebut. Kemudian ia pun akan menguji Ibu lagi dengan menumpahkan air hanya  untuk melihat apakah Ibu bereaksi dengan cara yang sama.

 

Si kecil pun akan mulai mengasosiasikan gerakan dan tindakan tertentu dengan kata-kata, seperti mengerti maksud lambaian tangan ketika ada seseorang yang hendak berpisah maupun menggelengkan kepalanya untuk menolak sesuatu.

 

Walaupun keesokan harinya, si kecil mungkin tidak selalu ingat tentang apa yang Ibu katakan hari ini, Ibu tidak perlu terlalu cepat untuk mengatur batas-batas tertentu. Namun segala sesuatunya bisa dimulai dengan mengajari si kecil mengenai beberapa perbedaan penting, seperti menjelaskan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan.

 

Gunakan penilaian terbaik Ibu sebagai panduan dalam memberikan instruksi dan menerapkan larangan untuk si kecil. Terapkan batasan yang sehat, seperti saat Ibu menyuruh si kecil berhenti melahap cupcake karena ia sudah terlalu banyak menghabiskannya “Ayo berhentilah makan, sayang. Nanti perut kamu sakit kalau terlalu banyak makan!”, jangan lupa untuk memberikan alasan yang logis di balik larangan Ibu.

 

Jika si kecil menarik ekor kucing dengan kasar, Ibu bisa menggerakkan tangannya sambil menatap matanya, lalu berkata, "Jangan menyakiti kucing ya," Kemudian bimbing tangan si kecil untuk membelai hewan peliharaan dengan lembut.

 

Keinginannya untuk mengeksplorasi lebih kuat daripada keinginannya untuk mendengarkan peringatan Ibu, sehingga Ibu  harus berusaha keras untuk melindungi dan mengajarkan si kecil tentang segala hal. Segala sesuatu yang tampaknya seperti pembangkangan, sesungguhnya  hanya merupakan rasa ingin tahu alami yang dimilikinya untuk melihat bagaimana dunia di sekitarnya bekerja.

 

Memasuki minggu ke dua di usianya yang ke sepuluh bulan ini, si kecil mungkin sudah mahir merangkak, sehingga ia akan mencoba menguasai keterampilan baru seperti dengan cara melangkah sambil berpegangan pada sesuatu untuk menyangga tubuhnya.

 

Si kecil pun sudah bisa duduk dengan tegak dan penuh rasa percaya diri. Bahkan sesekali mungkin ia akan berdiri tanpa berpegangan saat sedang mencoba berjalan sambil berpegangan pada perabotan yang ada di rumah. Ia akan melangkahkan kakinya saat Ibu memegangnya dalam posisi berjalan dan mungkin ia akan mencoba meraih mainannya sambil berjalan.

 

Keajaiban serasa datang saat melihat si kecil mulai bisa melangkahkan kakinya tanpa berpegangan. Saatnya Ibu menjadi motivator utama si kecil yang memulai proses belajar berjalan. Mayoritas si kecil mulai menunjukkan langkah pertamanya pada usia antara 9 sampai 12 bulan, dan kemudian ia bisa berjalan dengan baik pada saat telah berusia 14 atau 15 bulan.

 

Jika si kecil belum bisa berjalan sendiri atau menunjukkan langkah pertamanya pada usia 10 bulan, Ibu tidak perlu khawatir karena beberapa bayi normal lain pun ada yang baru bisa berjalan pada usia 16 atau 17 bulan. Namun Ibu bisa segera memeriksakan si kecil pada dokter anak bila ia masih belum bisa melangkah setelah berusia 2 tahun lebih.

 

Saat memulai langkah pertamanya, si kecil akan menjaga keseimbangan tubuhnya dengan cara memposisikan tangannya ke samping, lalu membungkuk di bagian siku, kemudian kakinya akan berpaling ke luar, sementara perutnya mengarah ke depan, dan pantatnya menonjol belakang.

 

Seperti biasa, Ibu harus selalu memastikan lingkungan yang bersih dan aman bagi si kecil yang tengah mengasah kemampuan barunya. Jangan pernah meninggalkan si kecil yang sedang belajar melangkah ini tanpa pengawasan orang dewasa. Selalu siapkan kamera bila Ibu ingin mengabadikan momen berharga saat si kecil bisa melangkah.

 

Meskipun pada saat ini kosakatanya mungkin hanya terdiri dari beberapa kata seperti "mama" dan "papa," si kecil mungkin sudah bisa mengoceh pendek. Sepenuhnya peubahan bentuk kalimat yang terdengar seakan-akan si kecil tengah berbicara dalam bahasa asing. Bertindaklah seolah-olah Ibu mengerti tentang apa yang ia bicarakan.

 

Si kecil mungkin dapat menjawab pertanyaan sederhana maupun perintah yang Ibu ucapkan, terutama jika Ibu memberinya beberapa petunjuk dengan menggunakan gerakan tangan. Misalnya, saat Ibu menanyakan "Di mana mulut?" sambil menunjukkan posisi mulut dengan menggunakan telunjuk Ibu. Ia bahkan bisa menjawab Ibu dengan caranya sendiri, ia bisa menggunakan gerakan sendiri, seperti menggelengkan kepalanya untuk berkata "tidak."

 

Ketika si kecil sedang berceloteh, suaranya terdengar seolah-olah masuk akal dan bisa Ibu mengerti. Hal tersebut terjadi karena ia berusaha mengeluarkan nada dan pola yang sama dengan yang Ibu gunakan saat berbicara. Bantulah perkembangan si kecil dalam menguasai berbagai kosakata baru dengan selau mengajaknya berbicara.

 

Proses berbicara berkaitan erat dengan mendengarkan dan memahami pembicaraan. Dengan mendengarkan orang lain yang berbicara, si kecil akan belajar dari apa yang terdengar seperti pengucapan suatu kata hingga bagaimana cara menempatkan kalimat secara bersamaan.

Sebagai seorang bayi, si kecil telah menemukan bagaimana caranya membuat suara untuk pertama kali, lalu ia pun berusaha membuat suaranya menjadi kata yang nyata seperti "mama" dan "papa" yang mungkin telah ia ucapkan pada usia 10 bulan.

 

Memasuki usia satu tahun, ia akan berusaha sungguh-sungguh untuk menirukan suara yang terdengar di sekelilingnya. Ibu mungkin mulai bisa mengerti tentang apa yang ia ucapkan, saat ia mulai semakin lancar berbicara pada usia ini.

 

Sekarang telah tiba masa pertumbuhan yang luar biasa bagi si kecil, saat Ibu bisa menyaksikan si kecil mengucapkan beberapa kata sederhana untuk mengajukan pertanyaan, maupun memberikan arah, bahkan ia sudah mulai bisa sedikit bercerita dengan bahasa yang sudah mulai bisa Ibu mengerti.

 

Si kecil mulai memahami banyak kata dan frase sederhana, sehingga penting bagi Ibu untuk berbicara dengan si kecil lebih intens dari sebelumnya. Ajarkan pola bicara yang baik untuk si kecil yang semakin cerewet ini, seperti mengulangi kata-kata yang ia ucapkan dengan menggunakan bahasa orang dewasa.

 

Jika si kecil mengucapkan "mam-mam", secara perlahan Ibu bisa memperbaiki pengucapannya dengan bertanya, "Kamu mau makan?".  Pada tahap ini, hal tersebut merupakan cara terbaik untuk menghindari kecenderungan si kecil berbicara tidak lancar di kemudian hari. Dengan  selalu mendengarkan pengucapan kata secara tepat yang Ibu contohkan, akan berdampak baik bagi perkembangan bicaranya.

 

Walaupun mungkin terlihat aneh saat Ibu terus berkomunikasi dengan si kecil yang masih belum lancar bicara, ternyata cara tersebut sangat baik untuk meningkatkan keterampilan berbahasanya. Ketika ia mengatakan sebuah kalimat yang tidak bermakna, Ibu bisa menjawabnya dengan penuh antusias dan rasa ketertarikan. Si kecil pun akan merasa dihargai saat berbicara, sehingga ia mungkin akan tersenyum dan semakin termotivasi untuk terus mengoceh.

 

Ibu mungkin akan segera melihat beberapa kata atau gerakan si kecil yang bisa dimengerti sebagai bentuk komunikasi lainnya, seperti menunjuk dan mendengus. Bila si kecil sudah bisa menunjuk suatu benda, sangat penting bagi Ibu untuk memperkenalkan nama-nama benda tersebut untuk membantunya belajar perbendaharaan kata.

 

Berikan permainan komunikatif untuk si kecil agar ia terpancing untuk menanggapi pertanyaan Ibu. Saat Ibu menempatkan si kecil di kereta dorongnya, Ibu bisa mengatakan tujuan Ibu menempatkannya, "Nah, sekarang kamu duduk yang manis disini ya. Ayo dipasang dulu sabuk pengamannya biar kamu lebih nyaman. Kita akan jalan-jalan ke taman, OK?"

 

Ibu juga bisa mengajarkan si kecil beberapa lagu anak-anak sambil mengajaknya bernyanyi bersama, sehingga ia bisa belajar lebih banyak kata, frase, dan kalimat dengan cara yang menyenangkan. Tak lama lagi, si kecil mungkin mulai bisa mengatakan "mama" ketika melihat Ibu dan "papa" saat melihat Ayah datang menghampirinya, meskipun terkadang ia sering tertukar  dalam mengucapkannya.

 

Antara usia 10 hingga 12 bulan, si kecil telah menunjukkan segala kemampuan dan peningkatan dalam tahap kembangnya. Berbagai perilaku yang ditunjukkan olehnya akan menjadi hal yang sangat menarik untuk Ibu amati. Seiring berjalannya waktu, si kecil sudah mahir dalam menggerakkan anggota tubuhnya pada bagian tertentu.

 

Si kecil yang sedang menjalani proses belajar berjalan dan belajar bicara ini tentu memiliki berbagai perilaku yang menggemaskan seperti saat ia berusaha menirukan ucapan Ibu maupun saat ia berusaha meniru gerakan Ibu yang berjalan menghampirinya. Saat ia menirukan segala sesuatu yang dilihatnya, si kecil tumbuh sebagai anak yang suka mengamati segala hal yang terjadi di sekitarnya.

 

Saat Ia sedang mengamati segala tindakan yang Ibu lakukan, si kecil akan belajar banyak sambil menggunakan kemampuan visualnya. Namun ia pun tentu akan mengingat apa yang telah ia lihat sebagai pedoman untuk mempelajari sesuatu. Si kecil juga sudah bisa mengingat anggota keluarga yang telah dikenalnya maupun mengingat mainan dan benda favoritnya.

 

Beberapa perilaku yang ditunjukkan si kecil yang hampir berusia satu tahun ini mungkin tidak selalu menunjukkan hal yang positif. Adakalanya si kecil menunjukkan perilaku yang kurang baik seperti saat ia menunjukkan kemarahannya yang dikenal dengan sebutan temper tantrum. Walaupun mungkin normal dalam perkembangan si kecil, Ibu harus tetap berusaha membantu si kecil untuk mengurangi perilaku temper tantrumnya.

 

Bagaimanapun perilaku yang ditunjukkan si kecil, senang rasanya apabila Ibu bisa selalu mengawasinya dan menyaksikan segala tahap pertumbuhannya. Pada usia ini, perilaku si kecil cenderung mengamati hal yang ada di sekitarnya, lalu ia akan mengingat segala sesuatu yang ia amati, dan kemudian akan menirukan apa yang telah ia amati berdasarkan ingatannya.